Efek samping Bell’s Palsy pada Vaksinasi Covid-19 ternyata tidak Jelas

Efek samping Bell’s Palsy pada Vaksinasi Covid-19 ternyata tidak Jelas

Efek Samping Belle’s Palsy Pada Vaksinasi Covid-19

Masyarakat Amerika mengkhawatirkan efek samping bell’s palsy keamanan vaksin setelah empat orang dalam uji coba Pfizer-BioNTech dan tiga orang dalam uji coba Moderna mengalami Bell’s Palsy, sebuah kondisi yang menyebabkan kelemahan atau paralisis otot wajah. 

Mungkin terdengar mengerikan, para ahli mengatakan Bell’s Palsy lebih umum dan tidak terlalu parah seperti yang orang-orang pikirkan. 

Bell’s palsy, juga dikenal sebagai kelumpuhan saraf wajah perifer, yang dapat terjadi pada usia berapapun, menurut Mayo Clinic. Penyebab utama tidak diketahui, tapi dipercaya hasil pembengkakan dan inflamasi saraf yang mengendalikan otot pada satu sisi wajah, atau reaksi setelah infeksi virus. 

image:pexel (Artem Podrez)

Dr. Anthony Geraci, Northwell Health’s Director of Neuromuscular Medicine di Great Neck, New York, mengatakan setidaknya dua pasien Bell’s palsy datang ke kliniknya dalam sebulan, dan mereka selalu sembuh dalam beberapa minggu. 

“Sembilan puluh persen, jika tidak lebih, dari pasien yang memiliki Bell’s palsy mengalami lemah satu sisi wajah ringan, sementara yang sepenuhnya sembuh dalam tiga bulan, kebanyakan dalam sebulan setengah,” katanya. “Hal ini merupakan kondisi ringan.”

Menurut Mayo Clinic, gejala Bell’s palsy termasuk awal terjadi kelemahan ringan yang cepat sampai paralisis total pada satu sisi wajah, wajah terkulai, sakit di sekitar rahang atau belakang telinga, sensitivitas meningkat terhadap suara, sakit kepala, hilang pengecapan dan perubahan jumlah air mata serta saliva yang dihasilkan. 

Namun Geraci mengatakan kebanyakan pasiennya mengalami gejala ringan sampai sedang. Yang dapat melibatkan mati rasa atau perasaan geli pada lidah, atau mungkin senyum yang tidak seimbang atau satu mata tidak berkedip sempurna dibandingkan mata yang lain. 

“Aku menantang seseorang untuk memperhatikan bahwa seseorang yang berkedip kurang berkedip dibandingkan mata sebelahnya.” Katanya.

Mayo Clinic mengatakan penyebab umum dari Bell’s palsy meliputi, herpes, cacar, dan shingles (herpes zoster), penyakit pernafasan, mumps atau rubella atau bahkan flu. Geraci mengatakan kebanyakan pasien dirawat dengan antivirus dan mengalami penyembuhan sempurna. 

Geraci mencatat bahwa lebih sering daripada yang direkam dalam uji coba vaksin COVID-19.

“4 dari hampir 40.000 orang bahkan kurang dari yang kita harapkan, ketika mengumpulkan 40.000 orang di jalan dan mengawasi mereka selama tiga bulan” bebas dari vaksin, katanya. 

Dia juga menegaskan bahwa tidak ada kasus yang cukup untuk menentukan apakah mereka disebabkan oleh vaksin atau terjadi secara kebetulan. 

Kasus-kasus Bell’s Palsy berat atau permanen sangat jarang, Geraci menambahkan. Dalam karirnya lebih dari 20 tahun, dia telah melihat lebih sedikit dari lima kasus. 

Dia mengatakan hal ini penting bagi masyarakat untuk memahami Bell’s palsy hanya merupakan sebuah “efek samping yang tidak jelas” dan seharusnya tidak mengahalangi seseorang mendapatkan vaksin COVID-19. 

Ini merupakan cerita yang perlu diingat yang seharusnya tidak mengurangi manfaat yang lebih besar untuk didapatkan seseorang atau masyarakat dari vaksin ini,” Kata Geraci.